OPINI

Pecundang

Pecundang
Eko Satiya Hushada
Catatan Eko Satiya Hushada

Pemimpin Redaksi 

BEBERAPA waktu belakangan ini aku lelah. Lelah ngeliat kelakuan pemimpin negeri makin ndablek. Aku pakai kata ndablek saja. Lebih dari itu, khawatir para buzzer nyerang. Biasalah, sensi. Nggak bisa bosnya dikritik sedikitpun, langsung menyerang. 

Kalimatnya kotor-kotor pula. Lebih kotor dari mulut yang nggak sikat gigi setelah bangun tidur. Jijik, kan?! Aku juga pilih kata ‘sensi’, biar agak kelihatan genit. Walau sebenarnya pakai kata ‘pemarahan’ rasanya kok ya lebih tepat.

Aku lihat para pemimpin negeri ini makin semaunya, main seruduk kayak banteng ngamuk. Semakin nggak peduli rakyatnya teriak protes. Aku kadang bertanya, apa pemimpin negeri merasa negeri ini miliknya? Kok semau-maunya? Kan ya nggak begitu, toh?!

Pemilik sebenarnya negeri ini ya rakyat. Pemimpin dipilih untuk melayani rakyat. Kekayaan yang ada digunakan untuk kemakmuran rakyat. Kebijakan dibuat untuk kesejahteraan rakyat, kebahagiaan rakyat. Ah, jadi ingat sebuah slogan,”Maju Kotanya, Bahagia warganya.” Maunya begitu. Maunya rakyat ya begitu.

Tapi sekarang ini mumet blas! Mumet mikirin kopad-kopid, mikir beli kuota internet untuk anak belajar di rumah, mumet mikirin jualan nggak laku karena yang beli juga nggak ada uang. Lah, kok ditambah urusan macam-macam. Terakhir malah bikin kegaduhan dengan melegalkan investasi dan  jualan minuman yang bisa bikin mabuk. Aku nggak membayangkan, nanti bakal gampang dapetin minuman yang bisa bikin mabuk di warung-warung. 

Katanya kebijakan itu hanya untuk empat provinsi. Ada buzzer sejati yang bilang kenapa hanya di empat provinsi itu saja, karena minuman keras sudah menjadi budaya, kearifan lokal di empat provinsi itu. Lah, ini buzzer sejati sudah mabuk duluan. 

Sebenarnya ribut-ribut soal minuman keras ini terlambat. Baru sadar setelah terbitnya peraturan presiden (Perpres). Padahal, Perpres ini tindak lanjut dari undang-undang yang sudah disahkan sebelumnya oleh wakil rakyat. Jika sebelumnya investasi minuman keras digolongkan sebagai investasi negatif, sejak UU itu disahkan, investasi minuman beralkohol menjadi investasi yang positif, legal. 

Jadi sebenarnya Presiden nggak salah-salah amat menerbitkan perpres itu. Presiden bisa bilang,”Lah, wong undang-undangnya sudah disetujui wakil rakyat. Kalau nggak dibolehkan, ya jangan disetujui undang-undangnya!” 

Nah loh! mumet kan?! Iya, mumet. Sumber kemumetan dan keruwetan negeri ini sebenarnya ya dari gedung wakil rakyat itu. Nggak punya integritas. Mereka kan kita pilih untuk mewakili kepentingan kita, rakyat pemilik negeri ini. Tapi ternyata mereka nggak amanah, ingkar. Kalau sedang kampanye saja mereka manis. Macam-macam lah kata mereka. Partai pro rakyat lah, pejuang rakyat lah. Klepek-klepek lah kita dengarnya. 

Kamu lupa ya, Mas dan Mbak Wakil Rakyat, kalau kamu bersumpah atas nama Allah, atas nama Tuhan mu? Tapi kemudian kamu ingkari janji mu. Kamu diam saat rakyat terabaikan hak-haknya, kamu diam ketika rakyat dihantam kesewenang-wenangan kekuasaan, ketika rakyat menangis namun tak punya lagi air mata. 

Kamu masih bisa berjalan di aspal dengan mobil dinas mu yang dikawal polisi dengan sirine menyala dan menyuruh pengendara lainnya minggir karena kamu mau lewat. Kamu masih bisa posting di media sosial mu sedang naik motor gede yang mahal itu, atau menjinjing tas branded yang kamu beli di salah satu flagship store di Champs Elysees, Paris. Sementara ada rakyat yang kamu minta agar mencoblos tanda gambar mu saat pemilu, sekarang sudah nggak bisa makan lagi karena betapa sulitnya kondisi ekonomi. 

Beberapa hari lalu, aku kirim pesan agak panjang lewat WhatsApp kepada sahabat ku yang sekarang duduk manis di gedung wakil rakyat. Aku katakan,”Covid-19 ini rasanya membuat peluang kita untuk mati semakin cepat. Semoga jika pun kita dipanggil Sang Pencipta, kita sudah siap. Siap mempertanggung jawabkan apa yang telah kita lakukan selama hidup. Jangan sampai kita jadi pecundang bagi negeri ini, bagi agama kita, bagi anak cucu kita. Kita harus tetap punya integritas, punya iman.”

Dia nggak balas. Hanya centang dua warna biru. Mungkin dia juga sudah lelah menghadapi kepalsuan demi kepalsuan di gedung wakil rakyat itu. Atau, mungkin saja dia sedang mencari ide untuk menciptakan kepalsuan baru. Entahlah. (*)

Berita Lainnya