OPINI

Kasimo-Wahid-Prawoto

Kasimo-Wahid-Prawoto
Catatan Syafril Teha Noer
Dewan Redaksi Satu Indonesia News Network

SEBAGAI Perdana Menteri dan ketua Partai Masyumi ekonomi Prawoto Mangkusasmito alangkah lemah. Tak punya rumah. Hidup berpindah-pindah dari satu ke lain rumah kontrakan.
Ignatius Joseph Kasimo, ketua Partai Katolik, jatuh iba. Lalu mengajak Wahid Hasyim, ketua Partai Nahdatul Ulama (NU) menginisiasi penghimpunan sumbangan. "Ayo kita kumpulkan kawan-kawan," kata beliau. Wahid setuju.
"Ngumpulnya di rumah panjenengan (tuan) ya," sambung Kasimo.
"Mengapa tidak di rumah panjenengan saja?" Jawab Wahid.
"Ya ndak enaklah. Orang-orang bisa salah paham; Ada apa? Kok ngumpul urunan rumah untuk tokoh beragama Islam dilakukan di rumah orang beragama Katolik!"
Uang itu pun terkumpul. Cukup untuk membeli rumah bagi Prawoto. Tinggal diserahkan pada yang bersangkutan. Tapi siapa yang musti melakukannya?
Kasimo mengusulkan Wahid - sebagai sesama muslim. Tapi Wahid menolak, dan meminta penyerahan dilakukan oleh yang lain. "Mengapa? Kan lebih tidak mungkin lagi oleh saya?" tanya Kasimo.

"Pak Prawoto itu sangat kritis terhadap saya dan Partai NU. Saya tidak mau membuat beliau tak kritis lagi, hanya karena sungkan. Atau malah menyangka kita yang biasa berbeda sikap politik dari beliau mengartikan sumbangan ini sebagai sogokan," urai Wahid.
Bila dengan Kasimo berbeda akidah, hubungan Prawoto dengan Wahid konon juga diwarnai perbedaan amaliah. Prawoto disebut-sebut Muhammadiyah, sementara Wahid yang putra Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdatul Ulama, pastilah nahdiyin 24 karat.
Sumbangan untuk beli rumah bagi Prawoto itu akhirnya diserahkan oleh seseorang. Entah siapa. Tapi dipastikan terhimpun dan diberikan bukan demi menggerus integritas dan indepedensi Prawoto di arena politik Bangsa masa itu.
Perhatikan. Para beliau jelas saling berbeda. Ya agama, ya amaliah, ya sikap politik - selain nasib ekonomi. Tapi, lho .. malah saling bantu. Saling menopang. Bebas dari syahwat-syahwat primitif, yang cenderung meniadakan, mengecilkan, membungkam, atau menjungkalkan sosok-sosok di partai berbeda. Tidak menanam agen 'proxy' di partai lawan. Apalagi bikin KLB ala kaum barbar.
Pada generasi beliau terselip teladan; Bahwa politik bukanlah tempat yang asing bagi penegakan kaidah-kaidah moral. Bahwa seberbeda-bedanya, semua tetaplah anak kandung Bangsa yang satu jua. Bangsa yang harus tegak kepala, tampil percaya diri dalam kancah pergaulan mancanegara.
(Bahan tulisan seperti dikisahkan Anies Baswedan. Foto dari berbagai sumber. Teks dialog adalah kreasi redaksional). (*)

Berita Lainnya