OPINI

Star Wars Bukan Lagi Cerita Fiksi

Star Wars Bukan Lagi Cerita Fiksi
BUKAN FIKSI - Elon Musk

Catatan: Chris Komari, wartawan SNN di Northern California. 

Dalam public interview di U.S. AIR FORCE ASSOCIATION tanggal Maret 2, 2020 antara Lieutenant General John Thompson, Commander U.S. AIR FORCE Base di Los Angeles membawahi 6.000 personnel dengan budget $9 billion dan salah satu innovator terbesar USA dan CEO SPACE-X, Elon Musk, yang membahas topik tetang inovasi U.S. AIR FORCE and U.S. SPACE FORCE.

Dalam interview tanya jawab itu ada beberapa hal penting yang diutarakan oleh Elon Musk yg perlu digaris bawahi, seperti: reusable rockets, pentingnya memiliki star fleet and star fleet academy, radical breakthrough innovations, self-sustainable cities on Mars, cities in the lower and upper orbits, be number #1 in the space technologies or, will be second.

Elon Musk menekankan bahwa untuk memenangkan space-race in the 21st Century, kuncinya awalnya ada pada satu produk, yakni: re-useable rockets.

Dengan mengunakan ilustrasi 2 negara yg sama-sama memiliki pesawat terbang, tetapi bila hanya sekali pakai harus ganti pesawat baru, melawan negara yang memiliki pesawat terbang yg sama tapi pesawat terbang itu bisa dipakai berkali-kali (reuseable), maka negara yang mampu menciptakan pesawat terbang yang bisa reuseable, sudah menang perang.

Itulah konsep sederhana dari CEO SPACE-X Elon Musk untuk memenangkan space-race era 21st sekarang ini.

Karena itu tidak heran bila SPACE-X saat ini sedang giat-giatnya mengembangkan technology rocket booster, raptor engines dan test flights, mulai dari take off, belly flop descent and landing STARSHIP untuk menciptakan reuseable rockets, mulai dari Starship Number 9 atau disingkat SN-9, SN-10, SN-11 dan kini mempersiapan SN-15.

Test flight SN-9 meledak ketika landing, karena ada salah satu engine yang gagal menyala pada waktunya, hingga tidak mampu mengontrol the rate of descent.

SN-10 berhasil landing utuh, meski miring sedikit (tilted) karena failure pada salah satu landing legs dan beberapa detik kemudian terjadi percikan api dan meledak.

SN-11 mengunakan engine raptor design baru dan test flight dilakukan pada saat udara yang tidak, sangat dingin dan foggy, sehingga sulit bagi camera untuk bisa menangkap semua manunevers starship dengan jelas.

Banyak enthusiasts dan pengamat space explorations yang kecewa dengan test flight SN-11 ini karena bad weather dan tidak bisa melihat spectacular maneuver dari starship yang tinggi 120 meter itu. Seperti monster building.

Beberapa menit kemudian setelah jadwal landing berlalu, baru terlihat dari camera serpihan puing- puing SN-11 dibeberapa tempat disekitar starbase SPACE-X di Boca Chica, TEXAS, yang kemungkinan besar diprediksi SN-11 meledak diudara saat mau landing.

Karena cuaca yang sangat buruk dan foggy, camera tidak bisa menangkap dengan jelas semua maneuver SN-11 mulai take off, belly floop maneuver hingga landing.

Elon Musk mengakui sulitnya menemukan a breakthrough reuseable rocket technology yang diperlukan untuk rencana kolonisasi planet Mars.

Karena itu Elon Musk selalu mencari dan melakukan radical innovations di SPACE-X dan dia siap menerima failure is an option, berbanding terbalik dengan motto milliter USA dimana failure is not an option.

Menurut Elon Musk, starship booster rocket dan rocketnya sendiri bukan hanya reuseable dalam hitungan waktu mingguan atau bulanan baru bisa dipakai lagi, seperti Space Shuttle Challenger, tetapi harus rapid reuseable rockets dalam hitungan waktu yang cepat dan pendek, dalam waktu beberapa jam saja sudah harus siap take off lagi...!!!

Yang paling menarik dari semua jawaban dan predictions Ellon Musk dalam interview itu adalah pernyataan Elon Musk ketika menjawab pertanyan Lieutenant Jendral John Thompson tentang kebutuhan pesawat Jets fighter generasi ke 6 atau generasi berikutnya untuk memenuhi kebutuhan war machines U.S. AIR FORCES.

Betapa kagetnya ketika Elon Musk mengatakan bahwa: "....fighter Jet era has passed...." (era jet pesawat tempur sudah habis/usang).

Elon Musk merasa bahwa secanggih dan sehebat apapun pesawat jet tempur itu dibuat, tetapi bila masih di piloti oleh seorang manusia, maka kehebatan jet tempur itu masih terbatas karena keterbatasan manusia untuk bisa menahan G-forces dan maneuverability lainya.

Bagi yg tidak tuned in dengan technologies yang dikembangkan oleh Elon Musk di SPACE-X, mungkin akan cukup kesulitan memahami pernyataan Elon Musk diatas.

Tetapi bagi yg sudah mengikuti sepak terjang dan breakthrough technologies yg sudah berhasil dilakukan oleh SPACE-X, maka apa yang dikatakan Elon Musk itu bukanlah satu mystery bahkan mudah dipahami.

Dengan terbentuknya the 6th branch of U.S. Military yg bernama: SPACE FORCE, selain 5 cabang militer America lainya yakni: Army, Navy, Marine, Coast Guard, Air Force), maka kita harus bertanya mengapa negara USA merasa begitu perlu dan penting memiliki cabang militer tersendiri yang bernama: SPACE FORCE.

Tidak ada rahasia lagi dalam dunia military combats and conventional wars, bahwa negara yang mampu menguasai space technologies dan war machines, akan menguasai angkasa atau memiliki AIR SUPREMACY.

Dan negara yang menguasai angkasa dan memiliki air supremacy, maka negarq itu akan menguasai medan perang dan pada akhirnya akan menguasai ekonomi dan militer negara tersebut.

Sejauh ini, negara mana saja yg sudah memiliki advanced space technologies, advanced military war machines, kemampuan untuk bisa projecting power, transferring power atau mobilizing military powers antar benua dan memiliki kekuatan AIR SUPREMACY, baik secara defensive maupun offensive....???

Saat ini hanya ada 5 negara: USA, RUSSIA, Germany, France, dan UK.

RRC/China meski memiliki cukup armada dan technology transportasi udara dan war machines, tetapi sejauh ini belum mampu projecting power antar benua. Kurangnya network, support dan kooperasi dari negara lain.

Sejauh mana negara USA ingin menguasai SPACE TECHNOLOGIES and AIR SUPREMACY di masa mendatang....???

Kita lihat kembali dari interview antara Elon Musk dengan U.S. AIR FORCE Lieutenant General John Thompson yg mengaris bawahi bahwa ERA pesawat jet tempur sudah berlalu alias usang.

Ini yang perlu digaris bawahi, mengingat begitu banyak negara didunia ini yg masih belum mampu menciptakan pesawat tempur sekaliber F15 atau F16, apalagi sekelas F22 raptor atau F-35...?

Sekarang Elon Musk mengatakan bahwa era pesawat jet tempur sudah berakhir....???

Terus technology apa yang dimaksud oleh Elon Musk...???

Kita lihat kekuatan military RUSSIA dengan kehebatan S-500 defensive and offensive military war machines, ditambah senjata Intercontinental Balistic Missiles (ICBM) seperti ICBM RS-28 SARMAT, dengan jangkauan tertinggi sejauh 18.000 km atau sekitar 11.200 miles atau 59.000.000 feet high or distance.

Sebagai perbandingan, lower orbit itu berada diketinggian antara 160 km hingga 2.000 km atau antara 99 miles hingga 1,200 miles.

International Space Station (ISS) berada pada orbit ketinggian 254 miles dari bumi.

Jarak antara BUMI dan BULAN (Moon) sejauh 238.900 miles.

Sementara itu, ICBM RS-28 SARMAT mencapai ketinggian atau distance 11.200 miles.

Jadi, untuk bebas dari jangkauan ICBM RS-28 SARMAT milik RUSSIA, maka USA harus punya pangkalan militer di luar angkasa paling tidak diketinggian diatas 12.000 miles.

Jadi antara lower orbit dan BULAN (moon base).

Disinilah mengapa SPACE-X projects sangat kritikal dan menjadi perhatian U.S. SPACE FORCE and U.S. AIR FORCE, karena selain untuk memenangkan space-race diabad 21 ini, adalah juga untuk conquering planet Mars, untuk mendirikan kota-kota di lower orbits, upper orbits, moon base dan colonization planet Mars.

Elon Musk menekankan pentingnya bagi USA untuk melakukan experiment-experiment dan inovasi yang radikal agar bisa menemukan space technologies yang pas dan memiliki reusable transportasi rockets yang memadai untuk membawa millions ton of cargo ke luar angkasa, guna mendirikan self-sustaining cities on Mars, mendirikan self-sustaining cities (bahasa halusnya pangkalan militer) di lower, di upper orbits, di BULAN (Moon base) atau paling tidak harus diatas ketinggian 12, 000 miles untuk menghindari jangkauan ICBM RUSSIA.

Bahkan dari kota-kota atau pangkalan militer diluar angkasa itulah, USA berharap bisa menghancurkan incoming ICBM atau melakukan double-intercepts ICBM RUSSIA dari atas (space) dan juga dari bawah (BUMI).

Untuk mencapai itu semua, Elon Musk menekankan pentingnya memiliki rapid reuseable rockets, untuk membawa jutaan tons of loads bahan-bahan yang diperlukan untuk mendirikan kota-kota di lower and upper orbits, mendirikan self-sustaining kota-kota di Mars, sebagai tempat pangkalan star fleets, drones fleets, robots dan AI (artificial intelligence).

Itulah era 21st century bagi negara USA.

Dalam interviews dan public speeches yang dilakukan oleh Elon Musk dibeberapa kesempatan, ada 3 alasan mengapa Elon Musk ingin sekali colonizing Mars:

1). Dengan trajectory global warming, natural disasters, radiasi dan kerusakan dibumi lainya, Elon Musk percaya bahwa pada akhirnya planet bumi ini akan menjadi tempat yang tidak mungkin untuk bisa ditempati oleh manusia (unliveable) seperti planet lain yg habis masanya.

Bahkan almarhum Stephen Hawking memprediksi bahwa dalam waktu 600 tahun lagi, planet BUMI ini sudah akan sangat sulit untuk bisa ditempati oleh manusia dengan nyaman karena sudah banyak yang rusak.

2). Potensi perang NUCLEAR yang sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat.

3). Kemungkinan BUMI berbenturan dengan asteroids, meteors atau planet lain.

Karena itu, untuk menyelamatkan kehidupan manusia, Elon Musk merasa perlunya manusia menjadi multi planet species, hidup diantara bintang-bintang di langit.

Bila ingat film STAR WARS, maka itulah yg sedang dilakukan dan dipersiapkan oleh U.S. SPACE FORCE, U.S. AIR FORCE dan SPACE-X.

Indonesia sudah memiliki industry pesawat terbang, industry kapal selam dan pabrik senjata perang conventional.

Sudah saatnya Indonesia mengejar ketinggalan dengan melakukan kerja sama untuk menguasai advanced technologies dengan negara lain khususnya dalam dunia technology NUCLEAR, AI (artificial intelligence), ROBOTIC, DRONES dan SPACE TECHNOLOGIES.

Sebab tanpa menguasai technology itu semua, akan sulit bagi Indonesia untuk bisa bersaing di abad ke 21 kedepan.

Negara manapun yang tidak mulai melakukan hal itu dari sekarang, akan semakin jauh ketinggalan. (*)


(Chris Komari is a billingual Indonesian-born International Correspondent for Satu Indonesia News Network (SNN) based in Northern California. He was an activist for democracy for over 20 years. He writes in English and Indonesian. He served as City Council in 2002 and 2008. He can be reached at, chris.komari@yahoo.com)

Berita Lainnya