OPINI

NASA Akan Kembali Ke Bulan (Moon) dengan SpaceX Starship

NASA Akan Kembali Ke Bulan (Moon) dengan SpaceX Starship

Catatan Chris Komari, Wartawan SNN di Northern California

NATIONAL Aeronautics and Space Administration (NASA) akhirnya menjatuhkan pilihan kepada SpaceX untuk misi mengirim dua astronot kembali ke bulan (moon) dengan memberikan kontrak kerja sebesar $2.9 billion dollar kepada Elon Musk, CEO SpaceX, mengalahkan perusahaan Blue Origin Space Venture milik Boss Amazon, Jeff Bezos, dan Alabama-based company, Dynetics.

Keputusan NASA ini cukup mengejutkan banyak pihak, karena pada awalnya dari beberapa test flights tahun belakangan ini, proyek lunar landing system ini lebih banyak dikerjakan oleh Blue Origin Space Venture pimpinan Boss Amazon, Jeff Bezos dan Alabama-based company, Dynetics.

Bahkan Blue Origin sudah membentuk Tim Nasional untuk memenangkan kontrak dari NASA ini dengan merekrut engineer dari perusahaan terbaik luar angkasa lainya di USA, seperti Lockheed Martin, Draper dan Northrop Grumman.

Sementara itu, SpaceX selama ini lebih fokus melakukan test flights Starship dengan tujuan utamanya, yakni mempersiapkan misi untuk kolonisasi planet Mars.

Selain SpaceX yang sudah memiliki spacecraft yang disebut STARSHIP, Blue Origin juga sudah memiliki spacecraft bernama: Blue Origin Blue Moon. Sementara itu Dynetics memiliki spacecraft bernama Dynetics HLS.

Tiga perusahaan ini sama-sama memiliki lunar spacecraft yang capable, canggih dan kemungkinan besar akan mampu untuk bisa terbang ke luar angkasa dan landing di bulan (moon).

Proyek awalnya adalah Blue Origin dan Dynetics diharapkan akan mengerjakan proyek NASA di bulan (Moon's base), dan SpaceX mengerjakan proyek kolonisasi di planet Mars (Mars' base).

Tapi rupanya keputusan NASA ini diambil karena keterpaksaan atau bisa dibilang tidak ada pilihan lain kecuali bekerja sama dengan SpaceX.

Budget yang diajukan oleh NASA kepada U.S. CONGRESS untuk menciptakan Human Landing System ke bulan (moon) sebesar $3,3 billion. Tetapi U.S. CONGRESS hanya menyetujui sebesar $850 million, jauh dari jumlah budget yang dibutuhkan oleh NASA.

Dengan dana yang minimum itu, NASA tidak ingin proyek human space exploration berhenti dan ketika SpaceX mampu memberi harga (adjusted bids) yang lebih rendah dan workable dibanding harga dari Blue Origin dan Dynetics yang jauh lebih mahal, maka SpaceX hanyalah satu-satunya pilihan bagi NASA.

Alasan budget itulah yang membuat SpaceX terpilih memenangkan kontrak NASA sebesar $2.9 billion untuk bisa membawa 2 astronauts ke bulan (moon).

Ada 3 proyek yang harus dibuktikan atau didemonstrasikan oleh SpaceX dalam kontrak NASA ini, yakni:

1). SpaceX diberi waktu hingga tahun 2023 untuk mendemonstrasikan kemampuan SpaceX Starship melakukan terbang melingkari bulan (moon) atau round-the-moon starship flight.

2). Team NASA berharap, setelah itu SpaceX Starship sudah siap dan dianggap mampu untuk bisa landing di bulan (moon) pada tahun 2024.

Landing pertama akan dilakukan tanpa crew sebagai a test flight untuk mengumpulkan data secukupnya dan memperbaiki system yang perlu disempurnakan. Setelah semuanya dianggap safe, sound dan capable, baru pada flight kedua atau berikutnya akan landing dengan crew dua astronot.

3). SpaceX juga harus mampu mendemonstrasikan bisa refueling di luar angkasa, atau istilahnya bisa isi bensin di orbit bagi pesawat luar angkasa (in-space propellant transfer). Karena hal ini sangat critical bagi kelangsungan misi pesawat luar angkasa untuk bisa membawa banyak cargo/loads dari bumi dengan mengurangi beban fuel.

Baru ketika sampai di orbit nanti, spacecraft ini bisa di-refueling untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya. Karena itu, Elon Musk juga harus memiliki Starship yang berfungsi sebagai gudang stock fuel atau fuel depot di luar angkasa atau di orbit. What an amazing project?!

NASA merencanakan Human Lunar Landing mission ini dengan dua stage flights:

a). Crew 2 astronauts akan terbang dari bumi dengan menggunakan NASA's Orion Capsule Spacecraft yang dibikin oleh Northrop Grumman dan Lockheed Martin dan akan di launch dari NASA's Space Launch System.

b). Kemudian Orion Capsule Spacecraft ini akan bertemu (hook up atau docking) dengan SpaceX Starship yang sudah menunggu di orbit bulan (moon), dimana 2 astronauts ini akan pindah dari pesawat capsule Orion menuju ke pesawat Starship dan kemudian akan terbang melingkari moon's orbit dengan trajectory turun landing ke bulan (moon).

Setelah misi di bulan (moon) selesai, crew ini akan kembali lagi naik pesawat starship  ke moon's orbit untuk bertemu dengan pesawat capsule Orion yang standing by di Moon's orbit dan akhirnya meneruskan perjalanan terbang balik kembali ke bumi.

Hal ini secara praktis sudah pernah dilakukan oleh beberapa astronot USA, dan yang terakhir adalah dengan pesawat NASA's Apollo 17, tanggal 7 hingga 19 Desember tahun 1972 dengan tiga astronauts; Eugene A. Cernan, Ronald E. Evans dan Harrison H. Schmitt.

Bila SpaceX mampu melakukan test flights yang memuaskan dan memenuhi timeline yang diharapkan oleh NASA, maka dalam waktu dekat kita semua akan bisa menyaksikan human exploration dan pendaratan manusia di bulan lagi.

Sekitar 52 tahun atau tidak lebih dari 55 tahun kemudian, NASA akan mengirim astronotnya kembali untuk menginjak kakinya di bulan, dengan spacecraft dan technologies yang jauh lebih advanced.

Kali ini tujuan kita bukan untuk datang dan pergi, tetapi kita akan datang dan menetap di bulan (moon) mendirikan moon-base untuk selama-lamanya bagi human exploration and civilization, kata Lisa Watson-Morgan, NASA's Program Manager.

Bagi SpaceX, memenangkan kontrak Human Landing System (HLS) dari NASA ini hanyalah an added value bagi Elon Musk secara finansial karena sebelumnya, SpaceX sudah banyak mendapatkan puluhan kontrak dari NASA dan juga dari U.S. AIR FORCE.

Kontrak NASA ini hanya reinforcing keinginan CEO SpaceX, Elon Musk, akan kebutuhan mendesak untuk membuat cities (kota-kota) di lower orbits, fuel depots di lower orbits, bikin cities atau hotels on the moon dan kemudian kolonisasi planet Mars.

Ambisi Elon Musk tidak hanya sampai disitu. Dengan Elon's Starlink System yang sudah ada dan berjalan, yakni internet access yang menggunakan constellation of satellites di luar angkasa, maka bukan hanya seluruh planet bumi yang akan bisa mendapatkan internet access, bahkan yang tinggal di bulan (moon) nanti dan planet Mars-pun akan mendapatkan internet access.

Saat ini Elon Musk dengan Starlink sudah mengorbitkan 1,200 satellites sebagai infrastructure starlink di lower orbits.

Tahun 2021 ini sudah di approved untuk mengorbitkan 7,518 satelit dan keinginan Elon Musk adalah mengorbitkan 42.000 satelit di lower orbits sebelum proyek kolonisasi planet Mars dimulai.


*Chris Komari is a billingual Indonesian-born International Correspondent for Satu Indonesia News Network (SNN) based in Northern California. He was an activist for democracy for over 20 years. He writes in English and Indonesian. He served as City Council in 2002 and 2008. He can be reached at: Chris.komari@yahoo.com

Berita Lainnya