NASIONAL

Rizal Ramli Beber Fase Hingga Covid-19 Meledak di Indonesia

Rizal Ramli Beber Fase Hingga Covid-19 Meledak di Indonesia
suasana penyekatan imbas PPKM

JAKARTA - Ekonom Rizal Ramli menilai, Indonesia kepayahan dalam menangani penyebaran Covid-19. Meledaknya kasus saat ini, merupakan buah dari sikap pejabat Indonesia yang menganggap enteng Covid-19. ia pun membeberkan catatannya, mengenai fase sebelum masuknya virus Covid-19 ke Indonesia hingga saat ini.  

“Fase pertama, yakni bantah-bantahan. Sejak Januari sampai dengan Maret 2020, Mahfud MD menilai ada orang yang dengan sengaja membuat isu terkait virus Corona di Indonesia. Mahfud memastikan hingga saat ini Indonesia masih nol virus Corona Indonesia masih dalam bantahan dari pemerintah sendiri,” kata Rizal Ramli dalam sebuah diskusi di acara Scangkir Opini, dengan host Refly Harun, Selasa (13/7/2021).

Ketika itu, kata Rizal Ramli, Mahfud menilai, ada orang yang sengaja membuat isu terkait virus Corona di Indonesia, padahal tidak ada virus Corona di negeri ini.

“Bahkan ada pejabat yang menjadikan Corona ini sebagai lelucon. Menhub Budi Karya Sumadi berkelakar bahwa tidak ditemukannya virus COVID-19 di Indonesia hingga saat ini karena masyarakatnya memiliki kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh itu dimiliki lantaran setiap hari gemar makan nasi kucing. Kok jadi lelucon?” ujar Rizal Ramli. 

Fase kedua, tambah Rizal, yakni fase genjot buzzer dan pariwisata. Dengan biaya untuk buzzer yang mencapai Rp70 Miliar, mereka ditugaskan untuk membantu mengantisipasi menurunnya geliat pariwisata Indonesia akibat wabah virus corona.

Dikatakan, kebijakan menggelontorkan anggaran Rp298,5 miliar untuk merangsang masuknya wisatawan mancanegara menjadi fase berikutnya yang menambah kekacauan penanganan Covid-19 di Indonesia. 

“Padahal Taiwan saja yang dekat dengan Cina sudah menutup negaranya dari pendatang terutama Cina. Sementara di Indonesia, turis malah disuruh masuk. Kemudian TKA Cina tidak berhentinya masuk,” tegasnya.

Di lain hal, menurut Rizal, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencatat, anggaran penanganan Covid-19 yang telah digelontorkan negara mencapai angka Rp1.035,25 triliun. "Jumlah segitu besar, kita tidak tahu penggunaannya untuk apa saja. Dan adanya temuan seperti disebutkan Novel Baswedan (penyidik KPK), Rp100 Triliun. ini kan besar sekali,” imbuhnya.

Dengan anggaran penanganan Covid-19 sebesar itu, menurut Rizal, seharusnya pemerintah bisa melakukan lockdown. Karena dalam lockdown atau karantina wilayah, pemerintah wajib memberi makan rakyat.

“Dulu di awal-awal Covid, Anies Baswedan kan meminta agar Jakarta lockdown. Tapi tidak disetujui. Ini kan aneh. 

Saat ini, menurut Rizal, Pemerintah Indonesia sudah memasuki fase panik. Dalam keadaan panik ini, semestinya pemerintah memberi keterangan dengan terbuka, dengan menjelaskan situasi yang sebenarnya, sehingga rakyat mengerti.

Ia pun kemudian minta agar Pemerintah mengambil lang-langkah yang tepat, yakni dengan melakukan karantina wilayah, tak sekedar PPKM atau PSBB. “Stop proyek besar, stop biayai buzzer dan influencer yang hanya membawa perpecahan dan mengadu domba rakyat. Rp300 triliun dipakai untuk rakyat tidak mampu. Dan, Rp100 Triliun untuk persediaan obat obatan,” helasnya..

Soal vaksin, ia menyarankan agar Pemerintah menggunakan vaksin pfizer, moderna, astrazeneca.  

“Lakukan vaksin untuk 180 juta rakyat Indonesia agar mencapai herd immunity  dengan melakukan 360 juta suntikan, dalam 180 hari, perhari 2 juta rakyat Indonesia divaksin,” ujar Rizal Ramli. (Karina Joedo)

Berita Lainnya