NASIONAL

Fahira Idris: Negara Harus Tangani Anak yang Kehilangan Orangtua Akibat Covid-19

Fahira Idris: Negara Harus Tangani Anak yang Kehilangan Orangtua Akibat Covid-19
KEHADIRAN NEGARA - Fahira Idris

JAKARTA - Anggota DPD RI Fahira Idris menilai, Pemerintah perlu membahas kebijakan khusus untuk menangani anak yang kehilangan orangtua akibat Covid-19. Sudah menjadi tanggung jawab negara mengurus anak korban Covid-19.

“Menukil studi terbaru dari jurnal The Lancet, dimana diperkirakan sebanyak 1,5 juta anak di seluruh dunia telah kehilangan orang tua, kakek-nenek, atau kerabat lain yang mengasuh mereka karena meninggal akibat akibat Covid-19. Sehingga pemerintah Indonesia perlu membuat kebijakan untuk mengurus anak-anak korban Covid-19 ini,” kata senator asal DKI Jakarta, Fahira Idris, kepada SNN, Rabu (28/7/2021).

Dikatakan, selain jurnal The Lancet data serupa juga dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS). Setidaknya ada lebih dari satu juta anak di seluruh dunia telah kehilangan orang tua karena Covid-19.

“Anak-anak itu, ada yang kehilangan salah satu orang tuanya, ada juga yang kehilangan salah satu orangtuanya. Sehingga terpaksa harus dirawat oleh kakek-nenek atau kerabat lain yang bertanggung jawab. Negara harus hadir dalam situasi ini,” tegas Fahira. 

Sebagai solusi, Fahira menginginkan agar Indonesia membuat kebijakan yang menaruh perhatian khusus untuk anak yang kehilangan orangtuanya akibat Covid-19. “Saya memahami saat ini banyak persoalan pandemi yang sedang fokus diselesaikan oleh pemerintah. Namun, soal kebijakan dan perhatian khusus buat anak yang kehilangan orangtuanya akibat Covid-19 juga menjadi persoalan penting yang perlu segera diformulasikan,” imbuhnya.

Menurut dia, langkah pertama bisa dimulai dari pendataan jumlah anak-anak di Indonesia yang kehilangan orang tuanya. Dari data ini, berbagai kebijakan dan perhatian khusus bisa dirumuskan.

Menurut Fahira, anak-anak yang harus kehilangan orang tua, berisiko mengalami berbagai efek baik jangka pendek maupun jangka panjang. Mulai dari risiko terhadap keberlanjutan pendidikan, suasana hati dan psikologis (kesehatan mental), gangguan tumbuh kembang, kesehatan fisik dan kesejahteraan mereka secara umum.

“Begitu besarnya dampak dari pandemi ini bahkan bisa menggoyahkan ketahanan sebuah keluarga di mana anak-anak menjadi paling rentan terdampak. Negara mesti hadir agar anak-anak ini tetap bisa menatap masa depan dan meraih walau harus menjalani hidup tanpa salah satu atau kedua orang tuanya,” tegas putri dari Fahmi idris ini.

Di lain sisi, selain soal anak yang kehilangan orangtua, pandemi ini secara psikologis juga berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak-anak. Mereka yang biasanya leluasa bermain di luar dan berinteraksi dengan teman-temannya, kini harus dibatasi.

Proses belajar mengajar dan interaksi anak di sekolah baik dengan guru dan teman-temannya serta berbagai kegiatan (ekstrakurikuler) yang semuanya sangat bermanfaat untuk pembentukan karakter harus terhenti.

“Semakin panjang durasi atau waktu penanggulangan pandemi Covid-19 di suatu negara, maka semakin berat dan kompleks dampak yang harus dihadapi anak-anak. Harus ada langkah khusus untuk persoalan ini,” tegas Fahira. (sa)

Berita Lainnya