OPINI

Keputusan Strategis Amerika Tinggalkan Afghanistan

Keputusan Strategis Amerika Tinggalkan Afghanistan
Catatan Chris Komari


TUJUAN awal invading Afghanistan bukanlah soal territory atau nation building, tetapi untuk mencari dan melumpuhkan jaringan teroris yang menyerang twin towers di New York pada 11 September 2001.

Selama 20 tahun perang di Irak dan Afghanistan, USA telah mengeluarkan dana perang sebesar $6,5 trillion dan sekitar $2,26 trillion untuk membiayai perang di Afghanistan.Jumlah yang sangat fantastic. 

Bila uang itu dipakai untuk membiayai kebutuhan pokok domestic rakyat Amerika sendiri sebanyak 331 juta orang itu, maka setiap orang akan bisa memiliki rumah baru, mobil baru, HP baru, PC baru, pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis dan biaya  transportasi gratis, dan uang $6.5 trillion itu masih tersisa banyak. 

Mengapa negara Federal USA tidak mau melakukan itu dan malah membiarkan banyak rakyatnya menjadi homeless mendirikan shelter encampments di bawah jembatan, on ramp dan off ramp freeways dan highways di  kota-kota besar di Amerika Serikat? 

Itulah negara USA dimana system economic capitalismnya dirancang dengan sistem yang membuat the most powerful, the super duper filthy rich Americans, the millionaires dan billionaires yang memiliki berbagai advance technology corporations will always win, survive and strive.

Pemerintah Federal USA secara umum tidak akan memberikan barang-barang dan pelayanan secara gratis kepada rakyatnya, meski negara USA mampu melakukan semua itu kalau mereka mau.

USA bukan negara socialism, dan bila semua rakyat Amerika Serikat hidupnya serba kecukupan, serba disediakan dan dicukupi oleh pemerintah Federal atau STATE, lantas siapa  yang akan menjadi labor forces, siapa yang akan membeli rumah, membayar cicilan rumah, siapa yang akan mengajukan kredit mobil, siapa yang akan menjadi tentara untuk maju perang membela interests negara dan bangsa Amerika Serikat?

Meski begitu, pemberian barang dan pelayanan gratis terhadap rakyat Amerika tetap ada. Hanya  sebatas pada golongan tertentu seperti senior citizens, orang miskin dan mereka yang sangat membutuhkan karena menjadi korban nasional disaster yang diatur oleh Undang-Undang (UU) tertentu.

Bagi yang lemah, miskin, cacat physic, autistic, tua renta, masih bayi atau wanita yg sedang hamil, program bantuan dari pemerintah cukup banyak baik secara finansial, housing, education, health dan transportation, asal mereka mau mengikuti program pemerintah.

Tetapi bagi rakyat Amerika Serikat yang sehat secara jasmani dan rohani, secara physical dan normal secara psychology, mereka harus bekerja keras dan competing secara terbuka dgn yang lain untuk bisa sukses dan berhasil hidup di USA.

Apa alasan negara USA menghabiskan uang sebanyak itu $6,5 trillion untuk membiayai 20 tahun perang di Irak dan Afghanistan? Di sinilah perlunya memahami makna dari perkataan the survival of the fittest, dalam konteks capitalism, politik dan ekonomi di negara Amerika Serikat. 

Bagi negara USA, yang menghasilkan pajak negara dan yang membuat roda capitalism berjalan dengan baik, bukan hanya terletak pada produk berupa barang (goods) dan pelayanan (services). Tetapi juga WAR MACHINES dan ADVANCE TECHNOLOGIES yang tidak kalah pentingnya to keep capitalism going dan the survival negara USA secara global.

Jadi ngurusi isi perut rakyatnya sendiri tidaklah terlalu siknifikan bagi pemerintah Federal, yang perlu diurus adalah INCOME NEGARA, GEO POLITICAL CONTROL and INFLUENCES untuk mempertahankan the survival negara USA di panggung dunia dan dominasi global. 

Karena itu, keberadaan para perusahaan perang dan advance technologies Amerika Serikat itu bukan hanya sangat penting, tetapi sangat vital sekali. Meski Presiden Dwight Eisenhower pernah mewanti-wanti kepada rakyat Amerika Serikat akan bahayanya dari pengaruh satu group yang sangat powerful ini; yang disebut The Military Industrial Complex, dalam kehidupan politik dan demokrasi di USA.

Tanpa mereka, negara USA akan bisa collapse,  baik secara ekonomi maupun militer, karena akan mudah dihancurkan dari luar. Jadi, menjaga dominasi control dan influences negara USA secara internasional adalah masalah national security interest pemerintah FEDERAL negara USA, dan siapa lagi tangan kanan pemerintah FEDERAL untuk menjalankan misi itu?


1). U.S. CONGRESS.

2). The advanced military industrial complex.

3). The mighty U.S. ARM FORCES.


Kita harus tahu siapa benar yang diuntungkan dari 20 perang di Irak dan Afghanistan.


Most definitely are the top 10 largest defense contractors yang juga terkenal dgn sebutan THE MILITARY INDUSTRIAL COMPLEX, dan tentunya the OIL CORPORATION Halliburton who gained $39.5 billion Federal contracts on war di Irak alone.


Siapa saja 10 kontraktor terbesar perusahaan pertahanan alat-alat perang Amerika Serikat ?


1). Lockheed Martin Corp.

2). Raytheon Technologies Corp.

3). General Dynamics Corp.

4). Boeing Company

5). Northrop Grumman Corp.

6). Analytics Services Corp.

7). Huntington Ingalls Industries Corp.

8). Humana Inc.

9). BAE System

10. L3 Harris Technologies Inc.


Keuntungan mereka itu jumlahnya ratusan juta dollar bahkan in billions dollar.


Perhatikan harga dan kenaikan stocks mereka di WALL STREET dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Kenaikan stock mereka sangat luar biasa, ada yang naik 100%, 300% bahkan ada yang sampai 1.000% dalam kurun waktu 20 tahun.

Sementara itu, bandingkan dengan kenaikan gaji atau minimum wage bagi para pekerja di Amerika Serikat. Tahun 2001, minimum wage $6.25 per jam. Sementara tahun 2021, minimum wage $13.00 per jam.

Kenaikan gaji minimum pekerja di Amerika selama 20 tahun terakhir sebesar 48% atau sekitar 2.4% per tahun.  Sementara itu, lihat keuntungan dan kenaikan share dari perusahaan kontraktor perang Amerika Serikat selama 20 tahun terakhir.

Itulah capitalism di USA dan the survival of the fittest. Sudah bukan rahasia lagi, most Americans memahami hal ini.

Mengapa Amerika Serikat meninggalkan Afghanistan tahun ini 2021?

Keinginan meninggalkan Afghanistan itu sudah ada cukup lama, mulai era Presiden OBAMA 2 term dan juga Presiden Trump.  Tetapi karena berbagai alasan politik dalam negeri, Presiden OBAMA dan Presiden TRUMP tidak berani mengambil risiko menghadapi risiko dari keputusan itu.


Baru di era Presiden Biden, keputusan itu sepenuhnya dilakukan, dan siap menghadapi dgn berbagai resiko politik dari dalam dan luar negeri. Ada 3 alasan strategic bagi negara Amerika Serikat untuk meninggalkan Afghanistan.


1). U.S. NATIONAL SECURITY INTEREST.


The new theater bagi USA dan para kontraktor perusahaan pertahanan Amerika Serikat bukan lagi ada di Afghanistan atau di Iraq, tetapi sudah bergeser di South China Sea (Laut China Selatan), TAIWAN dan Negara ASEAN lainya. 


This is a new frontier for many years to come, confronting RRC (CHINA) yang align (menjadi allies) dgn RUSSIA, IRAN dan perhaps, TURKEY. 


2). U.S. ECONOMIC INTEREST.


Meninggalkan Afghanistan hanya soal waktu, karena dgn munculnya tantangan baru bagi U.S. ECONOMIC dan U.S. NATIONAL SECURITY INTEREST untuk menghadapi RRC (CHINA).


Mengakhiri occupation di Afghanistan adalah calculated moves, keputusan strategis secara ekonomi dan militer harus dilakukan, karena dana operasional dan kebutuhan militer USA, saat ini dibutuhkan ditempat lain untuk menghadapi RRC (CHINA) di berbagai fronts.


3). U.S. MILITARY INTEREST.


U.S. Military sudah cukup memberi waktu, dana dan trainings selama 20 tahun kepada pejuang dan patriot Afghanistan. Bahkan juga diberikan full scale perangkat perang sebanyak 242 pesawat, termasuk memberi 12 pesawat trainer dan 6 attack helicopters dari USA, maintenance support, dan Afghan's Special Force Brigade yang bisa diandalkan untuk mampu membela negaranya sendiri dari ancaman dari dalam dan dari luar negeri. 

Yang tidak bisa diberikan oleh US Military adalah the will (tekad) untuk mau berperang  mempertahankan negara dan pemerintahan yang sudah mereka miliki.

Ketika  US Military merasa bahwa tidak ada lagi solusi militer di Afghanistan, maka pada saat itu sudah diputuskan untuk cabut dari Afghanistan secepat mungkin dan hal itu sudah dirintis mulai dari era Presiden OBAMA tahun 2008.

Tetapi karena sentiments politik dalam negeri di USA, Presiden OBAMA takut mengambil risiko politik dari keputusan itu, meski Wakil Presiden Joe Biden menginginkannya.

Ketika Donald Trump menjadi Presiden USA, hal yang sama terjadi, ingin cabut dari Afghanistan, maka dibukalah negosiasi dgn TALIBAN. Tetapi usaha itu tidak berhasil dan occupation di Afghanistan berjalan terus di era Presiden Trump, meski sedikit demi sedikit banyak tentara Amerika yg dibawa pulang.

Baru ketika Joe Biden menjadi Presiden, keputusan itu dilakukan sepenuhnya. Ketika TALIBAN mengetahui tentara Amerika mulai meninggalkan Afghanistan, mereka tidak buang waktu dan langsung advancing perlawanan mereka untuk menguasai kota-kota besar di Afghanistan hingga Kandahar dan terakhir Kabul.

Mengapa Afghan's Arm Forces yang dilatih oleh tentara Amerika hanya bertahan selama 11 hari melawan TALIBAN? Dari assessment Jendral Amerika yg bertanggung-jawab on the ground, jawabnya sangat singkat. Mereka tidak mau melakukan perlawanan layaknya seorang tentara pembela bangsa dan negara yang merdeka. Mereka memilih menyerah untuk menghindari bloodshed (perang saudara) dengan sesama pejuang Afghan, meski mereka dari group Taliban yang mereka tidak sukai. 

Hal ini terkonfirmasi oleh pidato mantan Presiden Afghanistan; Mohammad Ashraf Ghani Ahmadzai dari UAE, yang menyebutkan bahwa dirinya sengaja meninggalkan Afghanistan dan kabur ke UEA untuk menghindari tragedy perang saudara di Afghanistan terulang kembali, seperti 20 tahun yang lalu.

Itulah the will (keinginan/tekad) dari para pemimpin Afghanistan di mana U.S. MILITARY COMMANDERS tidak punya kontrol atau bisa memberikan training. Itu pilihan mereka.

Itulah sebabnya Afghan's Arm Forces jatuh hanya dalam waktu 11 hari, bukan karena kalah perang, lack of trainings, kalah skill atau kalah peralatan perang. Tetapi karena kalah tekad (the will), sengaja stand down dan tidak mau berperang to fight and defend their own government that they already have.

Meskipun saat ini keputusan Presiden Biden ini banyak menuai kritik; baik dari Republikan dan Demokrat, tetapi dalam jangka panjang akan menguntungkan USA secara ekonomi, politik dan militer.

Karena negara USA tidak lagi harus mengeluarkan banyak dana dan military resources yang besar untuk mengurusi dan mempertahakan pemerintahan di Afghanistan, dimana Afghan's Arm Forces sendiri ttak mau mempertahankannya. (penulis adalah Aktivis Demokrasi, wartawan SNN perwakilan San Francisco)

Berita Lainnya