OPINI

Maling Protes

Maling Protes

Catatan Syafril Teha Noer

KAUM maling bereaksi keras atas wacana penyebutan maling bagi para koruptor. Mereka demo dan orasi di mana-mana.
"Kami mencuri cuma untuk ngisi perut atau biaya berobat. Bukan untuk jadi kaya. Mereka, para koruptor itu, mencuri untuk mengisi brankas, mendirikan rumah-rumah bagai istana, mengoleksi barang-barang mewah, plesir ke mana-mana. Kadar kesalahan kami jauuuh sekali di bawah mereka".
"Ya. Memang sama-sama mengambil hak orang. Tapi akibat perbuatan kami cuma menimpa satu-dua orang. Paling banyak satu keluarga. Bukan orang-orang di satu negeri, satu provinsi, satu kabupaten-kota - seperti akibat kelakuan mereka".
"Kami acap lebih dulu diadili di jalanan, digebuki, bahkan dibakar hidup-hidup. Bonyok atau keburu mati sebelum disidang. Jaksa dan hakim untuk kami diambilkan dari jenis yang tegas dan kejam. Tak ada pembela, seperti yang mereka sewa, yang bisa membalik citra kami dari pelaku menjadi korban".
"Bukannya minta dimuliakan, tapi kami jelas tidak sehina-dina mereka. Mosok maling ayam disamakan dengan pengembat duit rakyat, yang sebagiannya duit kami juga. Udah gitu pringas-pringis lagi di depan kamera wartawan".
"Hakim dan jaksa untuk mereka alangkah santun dan berperikemanusiaan. Tidak tegaan. Karena itu hanya mampu menghukum ringan. Didiskon habis-habisan pula di tingkat banding. Lalu remisi-remisi. Padahal sel untuk mereka bak kamar hotel, yang dibayar dengan duit curian juga".
"Kami tersinggung dan protes keras. Kami menolak disamakan dengan mereka. Kami protes. Sebutan maling buat koruptor itu mereduksi bobot dosa mereka yang berjibun. Kalaupun mau diganti, carilah sebutan pengganti yang lebih patut".
"Terserah apa. Begundalkah. Garongkah. Penderita kusta jiwakah. Terserah. Kalau perlu bikin lomba mencari sebutan paling durjana untuk mereka. Yang jelas bukan maling".
"Kalau pun mau disamakan, suruh mereka menjalani dulu prosedur yang hampir selalu kami jalani; digebuki massa sebelum diserahkan ke polisi, dan digebuki lagi atau dianiaya napi senior di bilik bui".  (penulis adalah anggota Dewan Redaksi SNN) *

Berita Lainnya