NASIONAL

Plagiat, Putusan Banding Kasus HRS Diduga Pesanan

Plagiat, Putusan Banding Kasus HRS Diduga Pesanan
PLAGIARISME - Suasana jumpa pers

JAKARTA - Prof Dr  Eggi Sudjana, SH, MSi menduga, putusan banding sidang kasasi kasus Rumah Sakit UMMI dengan terdakwa Habib Rizieq Shihab di Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta, merupakan putusan atas pesanan pihak tertentu. Dugaan ini didasarkan atas plagiarisme putusan dan mengenyampingkan fakta sidang, khususnya keterangan saksi ahli sesuai pasal 184 KUHP.

“Saya menduga putusan ini by order (atas pesanan) pihak tertentu. Ini tergambar dari plagiarisme yang dilakukan majelis hakim banding,” kata  Eggi Sudjana Dalam jumpa pers yang digelar HRS Centre pimpinan Dr H Abdul Chair Ramadhan SH, MH, Senin (6/9/2021). 

Eggi yang hadir mewakili Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) itu berpendapat, hukum harus ada logika intelektualnya. Sesuatu yang  menjadi dasar hukum, karena dianggap benar  setelah melalui proses penelitian, yang kemudian menjadi undang-undang. Sementara putusan terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS) berdasarkan kemungkinan. 

“Ini tidak bisa begitu (berdasarkan kemungkinan). Tidak ada pendekatan intelektual, apalagi pendekatan hukum. Ini kebodohan yang luar biasa,” kata Eggy. 

Ia kemudian minta pihak terkait, khususnya Komisi III DPR RI untuk menindaklanjuti persoalan ini. Eggy pun menyoal penegakan hukum di Indonesia serta fungsi pengawasan legislatif (DPR RI) terhadap eksekutif yang tidak berjalan.  

“Kita minta Komisi III DPR menindaklanjuti hal ini. Fungsi pengawasan DPR nggak jalan, disfungsional. Telah terjadi rekayasa hukum,” ujarnya. 

Menurut Eggy, seharusnya majelis hakim banding memperhatikan fakta hukum sesuai pasal 184 KUHP, dimana adanya saksi ahli yang telah berpendapat, bahwa tidak ada keonaran yang ditimbulkan terkait pernyataan “saya sehat’ oleh HRS. 

“Sesuai pasal 184 KUHP, fakta sidang, ada saksi ahli yang telah berpendapat. Ini kok malah kok ngambil dari internet yang nggak berdasar. Plagiatnya 90 persen. Ini biadab luar biasa,” tegasnya lagi.

Ia pun berharap, hakim tinggi di tingkat kasasi nanti memperhatikan masalah ini. “Masih ada harapan di tingkat kasasi. ˇolonglah hakim tinggi di MA, tegakkan kebenaran,” pinta Eggy. 

Di kesempatan yang sama, Aziz Yanuar SH, anggota tim pengacara HRS menilai adanya kejanggalan dalam putusan banding tersebut. “Putusannya cepat sekali. Baru beberapa hari kami ajukan banding, sudah putusan. Dan ternyata plagiat putusannya. Kami akan masukkan soal plagiarisme ini dalam memori kasasi yang akan kami sampaikan ke MA segera,” ujar Aziz.

Sebelumnya, Direktur HRS Centre Dr H Abdul Chair Ramadhan SH, MH mengatakan, terdapat plagiarisme dalam pertimbangan hukum putusan banding HRS. Unsur plagiarisme terdapat pada uraian penjelasan ajaran (doktrin) ‘kesengajaan dengan kemungkinan yang ternyata berasal dari internet. Setidaknya bersumber dari website Hukumonline dan atau skripsi mahasiswa Fakultas Hukum yang tidak menyebutkan sumber refrensinya.

“Hasil plagiarisme itu kemudian menjadi dalil pertimbangan pemenuhan unsur ‘dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat’,”  kata Abdul Chair. (sa)

Berita Lainnya