OPINI

Pandemi, Plandemi, dan Selimut Qatar Airways

Pandemi, Plandemi, dan Selimut Qatar Airways
EMPAT BERSAUDARA - Neno Warisman, adik dan kakak.
Catatan Neno Warisman


KURSI 29 J Qatar Airways yang saya duduki ini berharga Rp5 jutaan,  pulang pergi (PP). Amazing!  Ini adalah perjalanan pertama saya ke Istanbul, sejak putri bungsu saya mondok belajar Al Qur’an di sana.

Saya berangkat bersama tiga orang adik dan kakak saya dalam rangka menengok Raudya Tuzzahra Ramadhani, putri bungsu saya. Kami memanggilnya Ody, kadang juga dipanggil adek. Meski lulus cumlaude dari IPB  dan hendak meneruskan  S2 nya di Eropa, namun masih berkenan memenuhi permintaan saya agar melengkapi masa depannya dengan hafalan dan pemahaman Al Quran. Alhamdulillah. 

Kata saya kepada Ody, rejeki  besar itu bukanlah punya Mobil Ferrari, tapi diberi anak  yang taat ibadah seperti Ody. Alhamdulillah. Dia mau.  Karena itu, perjalanan ini saya sematkan di hati dan pikiran saya  sebagai misi sakral.  

Karena hidup sejatinya berisi pergiliran peradaban demi peradaban,maka Turki yang dulu sekuler namun kini mampu memegang tongkat kepemimpinan peradaban baru Islam, maka Turki menjadi pilihan tempat menimbah ilmu Al Qur’an.  

Selain Turki, yang kini baru-baru saja mengibarkan bendera Rahmatan Lil Alamin, yakni Afghanistan. Afghanistan sedang melakukan koreksi besar-besaran atas peradaban yang distorsif, yang dilakukan bangsa asing terhadap mereka selama 30 tahun. 

Kemenangan Islam memang selalu menyesakkan dada para pelaku Islamophobia yang tak akan pernah rela jika  Islam jaya. Sebaliknya mereka bergembira ketika umat Islam luluh lantak, seperti  yang diharapkan  oleh mereka yang memusuhinya.

Plandemi, sesungguhnya mengisyaratkan alarm keras pada mereka yang merasa telah menjadi bangsa besar, kini mati kutu oleh karena  “uget-uget" super kecil yang dinamakan virus oleh para ilmuwan. 

Melepaskan diri dari perdebatan ada tidaknya virus itu sendiri,  dugaan rekayasa kekuatan internasional yang saling tuduh menuduh diantara mereka, atau tentang betapa menyengsarakannya semua akibat dari plandemi ini, kita  sejatinya melihat pergeseran nilai yang cukup menggelikan, jika kita mau sedikit mesem (tersenyum samar) dengan perilaku manusia menyikapi perubahan di sekelilingnya. 

Kembali ke nomor kursi 29 J Qatar Airways yang sedang membawa saya  beberapa jam lagi saja, untuk dapat merasakan kehangatan peluk dan cium ananda kekasih  buah hati saya, putri shalihat Ody. Ketika saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, saya pun melongo, terpana. Pandangan saya di kegelapan ini, di antara kursi-kursi yang banyak kosong ini. Ini karena penumpang yang berselang seling. Saya melihat selimut selimut di dalam plastik yang begitu banyak tak digunakan, dan sebagian terjatuh ke lantai pesawat, terserak. 

Saya ingat, betapa belumlah terlalu lama, saya mendapati banyak pribadi manusia yang jika menggunakan pesawat, ia  akan rela bertarung dan menyakiti hati penumpang lain, hanya demi kursi yang ia  klaim   telah dibayar. Coba sesekali minta tukar tempat  dengan penumpang lain, pasti terasa berat  bagi kebanyakan penumpang. Ada yang sampai mempertahankan nomor kursi di pesawatnya itu seperti  para anggota DPR yang akan menyetujui perpanjangan masa jabatan presiden!

Padahal tidak ada yang abadi.  Tak mungkin ada yang berjaya selamanya. Pasti ada masa surut dan turun. Pasti ada masa pergantian dan perubahan. 

Tidak ada yang memperebutkan kursi pesawat hari ini.  Termasuk selimutnya. Dibiarkan terlantar. Jumlahnya jauh lebih banyak dari penumpang. Mereka teronggok atau tersusun atau terjatuh bergelimpangan tanpa ada seorang pun yang memperebutkan. 

Saya tidur telentang di 3 kursi dengan 3 selimut yang bisa saya puaskan. Sendiri! Padahal Ini kelas ekonomi. Kalau kelas bisnis, kita mau minta 10 selimut pun mungkin akan diberikan, walau mungkin pramugari yang melayani akan lapor kepada supervisornya,"ini  ada penumpang agak gila!" Hahaha. 

Ya, itu, saya mengulangi tebaran pandangan saya ke sekeliling dan menatap penuh empati pada sekalian selimut hangat itu.  Mereka menatap saya dan tampak di raut wajah para selimut terbesit rasa  sedih. Ya mungkin  mereka ingin mengatakan sebuah kalimat,"Inilah nasib kami sekarang.” 

Tapi Qatar Airways adalah penerbangan negara kaya raya. Mereka menyedekahkan separuh biaya perjalanan ini mungkin karena mereka ingin tidak terlalu lama mati suri, sehingga semua derit roda peradaban kembali mulai dilumaskan meski itu  subsidi? Entahlah. Banyak pelaku ekonomi mengatakan "Asal berjalan dulu"  supaya ada gerakan, dan orang-orang pun mulai bangkit siuman, melupakan angka kematian dan menghidupkan kembali mesin mesin aktifitas niaga. Juga membangun lagi etos kerja  masal yang selama nyaris dua tahun ini semakin terperosok ke jurang kepayahan. Perubahan peradaban telah terjadi. Saya menarik nafas dalam dukacita untuk nasib para selimut. 

Di tengah pikiran merancang 14 hari perjalanan kali ini, tiba tiba rasa haus menyentak! Saya pun meninggalkan kursi ke kabin belakang tempat para awak biasanya kongkow-kongkow.  Dan benar, mereka sedang santai. Begitu saya  menyapa dan menyorongkan botol minum saya, serta merta  serentak mereka mengernyit, menyergah dan bersikap sedikit menghindar dari bahu yang ditarik ke belakang.  Keempat awak secara spontan dalam hitungan detik memberi gestur kuat agar saya menggunakan masker  yang tidak saya sadari melorot. Hehehe. 

Saya kagum dengan perubahan  mimik dan sikap serta pastinya mindset alam bawah sadar yang terbentuk baru oleh persepsi persepsi yang dicekoki. Lucu. Dulu, sebelum plandemi ini menyerbu, kita semua merasa asing dan cenderung menjauhi orang bermasker kain, alias menggunakan cadar yang menutup separuh wajahnya.  

Para pemakai cadar atau niqob kini telah memenangkan peradaban yang semula ditolak, bahkan dihina atau dibully dan dimusuhi. Menjadi peradaban seluruh bangsa seluruh negara, kecuali beberapa negara yang sangat cerdas mengantisipasi mindset rakyatnya dan mereka beruntung! Saat negara lain masih berkutat dengan virus , sedikit negara itu sudah bahagia dan merdeka  dari rasa takut dan kebodohan. Hebat.

Sementara kita, seperti  sebagian besar orang, nyaris semua kita tiba tiba merasa terancam dan  merasa  orang lain membawa bahaya  dan bencana  jika tak "bercadar " .Baik laki-laki maupun perempuan. Haha. Seru kan perubahan peradaban?!  Saya membayangkan ketika semua ikon budaya baru ini selesai,  mungkin orang akan tertawa tergelak-gelak jika harus mengetahui dan mengingat kembali seluruh rangkaian  peranan kekuatan global yang  begitu powerfull mengubah peradaban kita yang hangat dan percaya pada kekuatan kebaikan menjadi peradaban baru yang tengik dan membuntukan akal sehat. 

Ampun, dah!  Jangan-jangan yang lebih parah, bukan saja kita tak percaya pada tetangga, bahkan keluarga sendiri pun kita curigai bahwa dia membawa penyakit. Tetapi Kita  juga nyaris tidak percaya lagi pada penguasa akhirat yang menciptakan tubuh kita ini, yang seharusnya apapun titah Nya, ya kita percaya! 

Tubuh kita diciptakan Nya dengan sistem pengamanan ketahanan tubuh yang luar biasa canggih, dan sangat rumit tapi sederhana  secara perawatan tanpa perlu disusahkan sedemikian rupa sehingga seolah-olah kita harus hidup dengan banyak perangkat  aneh yang tidak masuk akal dan pantangan-pantangan yang aduhai.

Saya ingat betul di masa awal saya ikut  nimbrung pada rantai bisnis pesanan masker yang biasanya hanya seharga Rp50 ribuan, lalu sontak menjadi barang yang paling diinginkan dengan harga sampai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Itu orang cari, apalagi sebuah lembaga ataupun perusahaan, mereka rela membeli per kotak dengan harga hingga 10x. Bukan main. 

Walau Itu sudah berlalu tetapi pelajaran yang ditinggalkan tidak bisa hilang begitu saja bukan? Masker menjadi barang semiliar umat sekarang. 

Huffh.  Satu jam lagi mendarat di Doha, Qatar.  Pramugari sudah mengumpulkan sampah-sampah di tiap kursi. Saya pun mengumpulkan data di benak saya, apa apa yang akan menjadi sampah-sampah kebudayaan dalam peradaban berikutnya nanti yang  mungkin akan menjadi candaan konyol atau bahkan akan  menjadikan sebagian kita terbahak bahak mengenang hari ini. 

Terlepas dari tulisan yang acak adul ini, saya sebenarnya cuma ingin mengajak semua pribadi untuk jangan terlalu tegang dengan peradaban baru yang sedang dibangun oleh sekelompok pemilik gagasan mungkin, atau para pemegang saham kepemilikan dunia, mungkin.  Atau benar-benar suatu perjalanan natural pandemi atau plandemi, terserahlah. Bagi saya yang terpenting, himbaukan kepada semua manusia, kembalilah kepada Dia yang mampu menegakkan langit tanpa tiang itu. Kembali kepada Dia yang mampu menggetarkan bumi sebagai daratan yang tak dapat dijelajahi  secara fisik seluruhnya oleh sepanjang umur seseorang, karena terlalu luasnya. 

Sementara  bumi itu sendiri hanyalah sebutir kacang hijau biru  di antara pusaran ultra raksasa miliaran galaksi benda-benda semesta yang berputar pada porosnya masing-masing. Dan itu tak ada yang mampu menembus ke batas terluar terjauh karena ilmu manusia yang terbatas, tapi sok luas, tak mau rendah hati dan sadar diri, andaikan tak diberi akal maka sama saja dengan hewan. 

Kembali pada Dia , Allah SWT yang mampu menggerakkan setiap jiwa berjalan kian kemari melakukan segala aktifitas yang ia banggakan. Itu semua seolah seperti hebat, padahal di mata Nya, itu sangat remeh dan hina. 

Kembali pada Kemaha Perkasaan NYA yang mampu membenturkan semua benda di semesta ini dalam genggaman Nya dalam hitungan yang tak terbayangkan kecepatannya oleh makhluk makhluk bodoh yaitu manusia, yang hanya mampu mengindera yang nyata sehingga begitu rakus pada kekayaan dunia, tapi sulit mengakui kemahadahsyatan kekuatan Tuhan. 

Banyak orang mau melupakan Tuhan. Meniadakan peran Tuhan. Yang seperti itu, banyak dan semakin banyak. Takdir itu ada di balik semua perubahan yang tak terbaca di masa depan. 

Kita hanya tubuh dingin. Biru. Kaku. Ditanam. Saya hanya menulis ini bagi yang mau memikirkan. (Qatar Airways, 4 September 2021. Penulis adalah anggota Dewan Redaksi SNN)

Berita Lainnya