NASIONAL

Polisi Terima Laporan Yaqut, PA 212: Kita Kawal!

Polisi Terima Laporan Yaqut, PA 212: Kita Kawal!
DITERIMA BARESKRIM - Merry dan tim saat berada di Bareskrim Mabes Polri, Selasa (15/3/2022).

JAKARTA - Laporan masyarakat terhadap Menag Yaqut Cholil Qoumas akhirnya diterima Bareskrim Mabes Polri, Selasa (15/3/2022). Ketua Umum DTN PA 212 Ustadz Slamet Ma’arif (USM) saat orasi di atas mobil komando mengatakan, hari ini ada satu laporan terhadap Menag Yaqut yang sudah diterima Bareskrim Mabes Polri, setelah beberapa hari sebelumnya sempat ditolak. Alasan penolakan, laporan tidak menyertakan Fatwa Majelis Ulama (MUI) soal penista agama.  

“Sebelumnya ada dua laporan yang ditolak. Tapi hari ini, satu laporan diterima, setelah menyertakan Fatwa MUI.  Fatwa MUI itu sudah jelas. Bahkan Fatwa MUI menyebutkan, mereka yang mempermainkan adzan, dapat dihukum penjara,” tegas Ustadz Slamet.

Fatwa Ulama tersebut, kata Ustadz Slamet, merupakan hasil ijtima ulama MUI tahun 2021. Dalam sidang komisi A menghasilkan Fatwa, bahwa penoda agama layak dihukum penjara. Bahkan yang melecehkan adzan, disebut sebagai penoda agama.

“Kita sudah dengar kabar bahwa laporannya sudah diterima. Mereka sudah di Bareskrim sejak pukul 10.00 pagi. Kita tunggu mereka keluar dari gedung Bareskrim, untuk kita saksikan bukti laporannya diterima,” tegas Ustadz Slamet.

Pelapor yang dimaksud Ketum DTN PA 212 itu, yakni Aliansi Masyarakat Lampung (AML), yang diwakili Merry SAg sebagai pelapor. Ia didampingi pengacara Gunawan SH. Ini untuk kali kedua AML mendatangi Bareskrim Mabes Polri. Saat laporan pertama pekan lalu, laporan AML terhadap dugaan penistaan agama oleh Menag Yaqut tidak diterima, dengan alasan, Polisi tidak punya dasar untuk memproses dugaan penistaan agama oleh Menag Yaqut yang menyamakan gonggongan anjing dengan suara adzan, jika tidak ada fatwa MUI. 

“Satu itu saja alasannya, harus ada Fatwa MUI. Kami dipersilahkan kembali ke Bareskrim jika Fatwa MUI itu ada. Hari ini (Selasa, 15/3/2022) kami kembali membawa Fatwa MUI itu, dan alhamdulillah laporan kami diterima,” kata Merry kepada Satu Indonesia News Network (SNN) di sela-sela aksi tadi.

Namun sejauh ini, mereka keluar dari Mabes Polri hanya membawa surat laporan yang distempel dan diparaf oleh penyidik Bareskrim. Tidak ada nomor register yang menandakan laporan tersebut diterima.

Masih saat orasi di mobil komando, Ustadz Slamet Ma’rif mengaku heran dengan syarat yang diajukan Bareskrim, karena kasus penodaan agama sebelumnya diproses tanpa dimintai Fatwa MUI.

“Kasus Kece, dia diproses hukum tanpa Polisi minta Fatwa MUI. Kenapa giliran Menteri agama yang dilaporkan, dimintai Fatwa MUI. Ditangkap, disidang,” kata USM. 

Ia kembali menegaskan tak akan memberi ruang kepada penista agama. Bahkan mereka tak akan berhenti menggelar aksi sebelum para penista agama dipenjara. “Kita komitmen untuk tidak memberi tempat kepada para penista agama. Agama apapun, tidak boleh dihina, tidak boleh dinistakan. Kalau ulama salah, dihukum, silahkan. Begitu juga Menteri agama, kalau menistakan agama, juga harus dihukum. Penegakan hukum harus adil, harus sama,” tegas USM.

Dikatakan, jika peninsta agama tidak dihukum, ini akan memberi peluang pada yang lain untuk terus menerus menistakan agama. “Ini tidak baik saudara. Penista agama harus dihukum. Saya khawatir, saya khawatir, kalau penista agama diberi ruang tidak dihukum, maka umat Islam akan bertindak sendiri untuk menegakkan hukum,” tegasnya lagi. 

USM memberi waktu dua minggu untuk memproses Menag Yaqut. Jika dalam dua minggu tidak juga ada tindakan hukum untuk Yaqut, maka PA 212 akan kembali mengundang jutaan umat untuk hadir dalam aksi di Monas.  “Yang pernah kumpul di Monas, akan kita undang lagi saudara. Kita kawal kasus ini,” ujar USM. 

Aksi damai berlangsung sejak pukul 13.00 WIB, dan baru berakhir sekitar pukul 16.00 WIB. Sempat hujan deras, namun peserta aksi tetap bertahan di lokasi dan berlangsung damai. Aksi dimotori oleh PA 212, GNPF Ulama dan FPI, yang diikuti puluhan organisasi Islam.  (sa)

Berita Lainnya