NASIONAL

Difitnah Terlibat Teroris, Fadli Zon: Bagaimana dengan Presiden Jokowi?

Difitnah Terlibat Teroris, Fadli Zon: Bagaimana dengan Presiden Jokowi?
TERBUKA - Fadli Zon dan Fahri Hamza saat menerima rombongan FIPS tahun 2015 lalu. (dok DPR RI)

JAKARTA - Politisi Partai Gerindra Fadli Zon menjawab tuduhan terlibat teroris, hanya karena menerima kunjungan rombongan delegasi kemanusiaan dari Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) tahun 2015 lalu, yang salah seorang anggota rombongannya baru-baru ini ditangkap Densus 88 sebagai terduga teroris. Ia pun menyinggung momen pertemuan Presiden Joko Widodo dengan terduga teroris Farid Okbah di Istana, pada 29 Juni 2020 lalu.

“Pak Presiden Jokowi juga bertemu dengan Pak Farid Okbah di Istana. Apakah dua peristiwa yang berlainan itu bisa dikait-kaitkan? Secara politik, saya menganggap ini adalah fitnah yang kotor,” kata Fadli Zon kepada Satu Indonesia News Network (SNN), Rabu (16/3/2022). 

Dikatakan, ia mengikuti beberapa berita, yang dimulai dari cuitan seorang buzzer, yang isinya mengaitkan seolah-olah ia punya kaitan dengan seorang terduga teroris yang baru saja ditangkap Densus 88. Ini hanya karena sebuah foto lama tahun 2015 lalu. 

Menurut Fadli, sebagai Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Korpolkam, 2014-2019), setiap hari ia menerima berbagai delegasi bahkan hingga puluhan orang. Delegasi masyarakat yang ia terima, mewakili berbagai spektrum golongan dan kepentingan. Baik untuk keperluan audiensi, penerimaan pengaduan, maupun courtesy call. 

“Sebagai wakil rakyat, saya selalu bersikap terbuka terhadap seluruh anggota masyarakat, apapun suku, ras, agama, serta afiliasi politiknya. Itu adalah bagian dari tugas representasi saya sebagai anggota DPR RI,” jelas Fadli.

Ia pun menceritakan secara runtut momen pertemuannya dengan FIPS. Pada 28 Mei 2015, menurut Fadli, ia bersama Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra), Fahri Hamzah, menerima permintaan delegasi kemanusiaan dari FIPS yang dipimpin oleh Ustadz Bachtiar Nasir (UBN). Mereka menyampaikan perkembangan situasi pengungsi Suriah di perbatasan Turki yang membutuhkan bantuan dari masyarakat Indonesia. 

“Mereka menggalang dana untuk rumah sakit darurat, makanan, serta pakaian bagi pengungsi korban perang,” jelas Fadli.

Karena dana dikumpulkan dari masyarakat Indonesia, tambah Fadli, mereka kemudian meminta dirinya dan Fahri Hamzah sebagai representasi pimpinan wakil rakyat untuk secara simbolik menyerahkan bantuan kemanusiaan tersebut kepada FIPS. Penyerahan bantuan simbolik itu pun, kata Fadli, diabadikan oleh para wartawan yang hadir. 

“Setiap kegiatan saya sebagai anggota dan pimpinan parlemen, selalu didokumentasikan sebagai bentuk keterbukaan sekaligus pertanggungjawaban publik,” ujarnya. 

Dikatakan, selama dirinya menjabat Wakil Ketua DPR RI Bidang Korpolkam, kegiatan-kegiatan itu ia dokumentasikan dalam buku ‘Berpihak Pada Rakyat’ yang terdiri dari lima jilid. Pertemuan dengan anggota delegasi FIPS tadi dicatat dan didokumentasikan pada buku jilid pertama halaman 285.

Dana yang tertera dalam simbol (USD 20,000) itu adalah dana yang dikumpulkan oleh FIPS dari masyarakat Indonesia. Bukan sumbangan pribadi saya atau Saudara Fahri Hamzah,” jelas Fadli.

Ditambahkan, ia dan Fahri Hamzah kenal dengan tiga anggota delegasi FIPS, yaitu Ustadz Bachtiar Nasir, Mustofa Nahra, serta pengacara Achmad Michdan. Namun, empat orang lainnya ia tidak kenal.

Sebelum bertamu ke DPR, kata Fadli, pada tanggal 21 Mei 2015 FIPS juga telah bertamu ke Kementerian Luar Negeri yang diterima oleh Wakil Menteri Luar Negeri. Kementerian Luar Negeri menyambut baik kegiatan FIPS dan mengakui bahwa pemerintah Indonesia memiliki pemikiran serta visi yang sama dengan FIPS terkait bantuan kemanusiaan bagi rakyat Suriah yang saat itu sangat membutuhkan pertolongan kemanusiaan.

Menurut Fadli, penerimaan terhadap delegasi FIPS adalah bentuk dukungan terhadap aksi kemanusiaan. Ketika masyarakat Indonesia menyumbang rumah sakit di Gaza, sebagai Wakil Ketua DPR RI ia juga diminta untuk menyerahkan bantuan tersebut secara simbolik.  

“Upaya untuk mengait-ngaitkan dengan terduga teroris adalah fitnah belaka. Secara politik, saya menganggap ini adalah fitnah yang kotor. Sama seperti kalau ada orang yang mencoba mengaitkan Presiden Joko Widodo dengan terorisme hanya karena pernah menerima terduga teroris Farid Okbah di Istana,” singgung Fadli.

Sebagaimana diketahui, pada 29 Juni 2020 Farid Okbah pernah diterima Presiden Joko Widodo di Istana. Pada tanggal 16 November 2021, Farid Okbah ditangkap oleh Densus 88 sebagai terduga teroris. 

“Apakah dua peristiwa yang berlainan itu bisa dikait-kaitkan?” tambah Fadli.

Di akhir penjelasannya, Fadli mengatakan, keterangan ini ia buat untuk menepis fitnah sejumlah orang yang secara insinuatif berusaha memutarbalikan dukungan dirinya terhadap aksi kemanusiaan, seolah adalah bentuk dukungan terhadap terorisme. “Itu fitnah yang sangat kotor dan keji sekali,” tegas Fadli. (sa)

Berita Lainnya