OPINI

Keutamaan Menghafal Alquran

Keutamaan Menghafal Alquran
PENULIS: Habib Rassya Aljufrie

Oleh Habib Rassya Aljufrie

 MENGHAFAL Al-Qur’an mempunyai keutamaan di dunia dan di akhirat.

Keutamaan di dunia di antaranya adalah nikmat Rabbani yang datang dari Allah, yang menjanjikan kebaikan, keberkahan dan kenikmatan dan ilmu bagi penghafalnya. Dan para penghafal Al-Qur’an mendapatkan Tasyrif Nabawi (penghargaan khusus dari Nabi).

Di akhirat kelak, selain akan mendapatkan syafaat, para penghafal Al-Qur’an juga mendapat kehormatan berupa Tajul Karomah (mahkota kemuliaan) bagi dirinya dan kedua orang tuanya.

Tak bisa disangkal bahwa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu al-Qur’an dari Jibril dengan cara hafalan, karena beliau adalah seorang ummi (tidak bisa membaca ataupun menulis) (al-‘Ankabut : 48). 

Demikian pula beliau mengajarkan kepada para sahabat. Setiap kali turun ayat al-Qur’an para sahabat yang kebanyakan juga tidak bisa baca tulis dengan penuh semangat menghafal ayat-ayat al-Qur’an yang mereka terima dari Nabi, di samping ada beberapa sahabat yang diminta untuk menuliskannya.

Lalu muncullah gagasan untuk mengumpulkan al-Qur’an pada masa kekhalifahan Abu Bakar Siddiq ra dari Umar Ibnu Khattab ra. Umar merasa khawatir akan hilangnya sebagian Al-Qur’an dari penghafalnya yang banyak gugur dalam pertempuran.

Oleh sebab itu khalifah Abu Bakar ra memerintahkan Zaid bin Tsabit, penulis suhuf-suhuf di zaman Rasulullah untuk mengumpulkan suhuf-suhuf al-Qur’an, baik yang terdapat pada pelepah kurma, tulang hewan maupun dari para penghafal Al-Qur’an yang masih hidup. Dengan demikian kaum muslimin pada saat itu sepakat meyakini, bahwa mushaf Abu Bakar adalah mushaf Al-Qur’an yang sahih yang diakui oleh semua sahabat tanpa ada yang membantah.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab nyaris tidak ada lagi kegiatan dalam rangka mengumpulkan Al-Qur’an, karena menitikberatkan pada penyebaran agama Islam ke seluruh penjuru dunia.

Barulah pada masa Khalifah Usman bin Affan ra, setelah wilayah kekuasaan Islam sudah semakin luas, oleh sebab itu semakin beraneka ragam pula bangsa-bangsa bukan Arab yang memeluk Agama Islam.

Seorang sahabat bernama Hudzaifah Ibnu Yaman mengusulkan kepada khalifah agar segera diambil kebijaksanaan terkait timbulnya perbedaan-perbedaan mengenai bacaan al-Qur’an, karena setiap kabilah merasa paling baik bacaan al-Qur’annya.

Usul itu segera diterima Khalifah Usman ra, untuk segera mengirim utusan untuk meminta mushaf kepada Hafsah yang disimpan di rumahnya untuk disalin (diperbanyak). Untuk memperbanyak mushaf ini kembali khalifah Usman menunjuk Zaid sebagai ketuanya dengan anggota-anggotanya Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash, dan Abdurrahman bin Harits.

Setelah selesai memperbanyak mushaf, maka Usman menyerahkan kembali mushaf yang asli kepada Hafsah. Kemudian lima mushaf lainnya dikirim kepada penguasa di Mekah, Kufah, Basrah dan Suriah, dan salah satunya dipegang oleh Khalifah Usman bin Affan sendiri.

Demikianlah sejak saat itu mushaf Al Qur’an tersebut dinamai mushaf al Imam atau lebih dikenal dengan mushaf Usmani, karena disalin pada masa khalifah Usman bin Affan.

Al Qur’an adalah pedoman utama bagi seorang muslim dalam meniti jalan hidupnya. Di dalamnya, terdapat kisah-kisah dan petunjuk jalan yang bila dipegang teguh, niscaya akan mengantarkan pada keselamatan dunia dan akhirat.

Membacanya saja akan diganjar oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan 1 kebaikan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan, untuk tiap huruf yang dibaca. Apalagi, pahala bagi yang orang yang menghafal Al Qur’an

•             Menjadi Keluarga Allah SWT

Ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA:

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia. Sahabat bertanya, “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: Mereka adalah Ahli Al Qur’an. Mereka keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya.”

•             Mendapat Penghormatan dari Rasulullah SAW

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi dan Nasa’i, Rasulullah memilih pemimpin utusan dari sahabat yang memiliki hafalan yang terbanyak, walaupun usianya lebih muda dari anggota rombongan yang lain. Selaras pula dengan apa yang dikisahkan dalam hadits riwayat Bukhari, ketika Rasulullah ingin memakamkan syuhada perang Uhud pun, Beliau mengutamakan pemakaman sahabat yang lebih banyak hafalan Al Qur’annya.

•             Mendapatkan Tempat yang Tinggi di Surga

Sebagaimana dikatakan oleh sebuah hadits riwayat Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban:

“Nanti akan dikatakan kepada orang yang membaca (menghafal) Al-Qur’an, ‘Bacalahdannaiklahsertatartillahsepertiengkaumentartilnyadiduniadulu, karena tempat dan kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca (hafal)”.

•             Mendapat Syafaat dari Al Qur’an

Jaminan syafaat ini tertulis dalam hadits: “Bacalah Al-Qur’an, karena Al-Quran akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi yang membacanya.” (HR. Muslim: 1910). Selain itu, penghafal Al Qur’an juga bisa memberikan syafaat kepada 10 keluarganya hari akhir. Sebagaimana hadits:

Dari sayyidinaAliRa,RasulullahSAWbersabda,“BarangsiapamembacaAl-Qurandan menghapalnya,danmenghalalkanapayangdihalalkannyasertamengharamkanapa yangdiharamkannya,makaAllahSWTakanmemasukannyakesurgadanakan menerima syafaatnya untuk sepuluh orang keluarganya yang wajib masuk neraka.”(HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Darami)

Mendapatkan Mahkota Kemuliaan di Hari Akhir

Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata,

 “Ya Allah, berikan dia perhiasan.”

Lalu Allah berikan seorang hafiz Al-Quran mahkota kemuliaan.

Al-Quran meminta lagi,

“Ya Allah,tambahkan untuknya.”Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi,“Ya Allah,ridhoi dia.”Allah-pun meridhainya.Lalu dikatakan kepada hafizh Qur’an,“Bacalah dan naiklah,akan ditambahkan untuk mu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.”(HR. Tirmidzi 3164dan beliau menilai Hasan shahih)

 

Membahagiakan Orang Tua

Rasulullah SAW berkata:

 “Barangsiapa yang membaca Al Qur’an,mempelajari,dan mengamalkannya, akan dipakaikan kepadanya mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahaya Nya bagaikan cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tak pernah dijumpai di dunia. Orang tuanya lalu bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini? kemudian dijawab, “Karena kalian memerintahkan anak kalian mempelajari Al Quran” (HR. Al Hakim).

Yang tak kalah penting dari poin-poin di atas, Allah SWT pun akan memberi limpahan keberkahan bagi kehidupan para penghafal Al Qur’an di dunia, bukan hanya di akhirat semata. Yang demikian ditegaskan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Siapa saja yang dirinya disibukkan dengan Al Qur’an dan dzikir, sehingga

dia tidak sempat meminta, maka Aku akan memberikannya yang lebih utama daripada yang aku berikan kepada orang yang meminta.” (HR Abu Dawud)

Biodata penulis

Habib Muhammad Nabil Rassya Aljufrie atau yang biasa dipanggil Rassya adalah seorang penghafal Alquran. Penulis  lahir di Jakarta pada tanggal 10 April 2006. Pada tahun 2018 menyelesaikan pendidikan dasar  di SDI  Al Azhar, Kelapa Gading. Pada tahun 2019 melanjutkan pendidikannya di SMP Emiisc Boarding School Semasa sekolah di SMP Emiisc Boarding School, penulis banyak belajar tentang ilmu agama terutama Al Quran dan lulus pada tahun 2021 dengan mendapatkan sanad Tuhfatul Athfal. Sekarang penulis sedang melanjutkan pendidikan SMA nya di SMAI Al Azhar Kelapa Gading .


Prestasi penulis :

  • Mempunyai Sanad Tuhfatul Athfal (2020)
  • Juara 2 lomba MHQ Aliz Fest  (2022)
  • Juara 2 lomba khutbah gebyar Muharram (2021)

Berita Lainnya

Keutamaan Salat Berjamaah
Keutamaan Salat Berjamaah
OPINI Senin, 28 November 2022